Ketika Pejabat Publik Sibuk Joget, Rakyat Berjuang di Tengah Himpitan Ekonomi
OPINI
Fenomena maraknya pejabat publik yang tampil berjoget dalam berbagai acara belakangan ini menuai pro dan kontra. Di satu sisi, aksi joget dianggap sebagai bentuk kedekatan pemimpin dengan rakyat. Namun di sisi lain, sebagian masyarakat menilai hal ini kurang pantas, mengingat kondisi ekonomi nasional yang tengah terhimpit inflasi dan sulitnya lapangan pekerjaan.
Bagi masyarakat kecil, setiap hari adalah perjuangan. Disaat harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran, dan kesempatan kerja kian terbatas ditambah beban pajak yang terus melambung.
Di tengah realitas pahit tersebut, aksi joget para pejabat kerap dianggap sebagai simbol ketidakpekaan. Bukannya hadir dengan solusi konkret, yang terlihat justru wajah penuh tawa dan goyangan di atas panggung.
Tentu tidak salah jika seorang pejabat publik ingin berbaur dengan rakyat. Namun, saat kondisi sosial-ekonomi sedang sulit, langkah komunikasi publik seharusnya lebih mengedepankan empati ketimbang hiburan berlebihan.
Seorang pejabat idealnya mampu menunjukkan bahwa ia benar-benar memahami penderitaan masyarakat, bukan sekadar tampil populer dengan aksi joget yang viral.
Masyarakat tidak anti hiburan, tetapi mereka lebih membutuhkan kebijakan nyata: penciptaan lapangan kerja, kestabilan harga kebutuhan pokok, memastikan penghasilan yang memadai bagi masyarakat serta memberikan perlindungan sosial yang tepat sasaran.
Aksi joget para pejabat publik mungkin hanya berlangsung beberapa menit, namun dampak psikologisnya bisa menciptakan jarak dengan rakyat yang sedang kesulitan bertahan hidup.
Pejabat publik sejatinya adalah teladan. Sikap sederhana, ucapan yang penuh solusi, dan tindakan yang berpihak kepada rakyat jauh lebih bernilai ketimbang sensasi joget yang sekilas menghibur. Kepemimpinan yang berempati akan meninggalkan jejak kepercayaan yang kuat di hati masyarakat
Penulis dalam hal ini tidak bermaksud melarang pejabat untuk bergembira, tetapi mengingatkan bahwa setiap tindakan publik membawa pesan politik dan moral. Di tengah himpitan ekonomi dan sulitnya lapangan pekerjaan saat ini, rakyat lebih mendambakan pemimpin yang hadir dengan langkah nyata, bukan sekadar joget yang viral.
Pemimpin yang mampu membaca situasi dan menjaga sensitivitas sosial akan selalu mendapat tempat istimewa di hati masyarakat tanpa harus goyangan di panggung.
Namun saat ini yang terjadi malah sebaliknya disaat masyarakat merasa terzolimi atas kebijakan-kebijakan pemerintah, para pejabat malah kompak mempertontonkan aksi yang menyayat hati dan perasaan masyarakat.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan